Intel Amatiran
Karya : Hosea Felix Sanjaya
Empat orang gadis cantik
dan mempesona ... sebut saja namanya Mawar, Annie, Kenny, dan Christa. Tidak
ada yang tahu latar belakang kehidupan mereka. Tetapi mereka tinggal di sebuah
rumah kontrakan mewah. Busana dan gaya hidupnya begitu glamor.
Entah mengapa mereka
bersaing dan memperebutkan seorang pria playboy paruh baya berduit yang sering
datang dan memacari mereka berempat. Mereka begitu norak dengan kelakuannya.
Hingga suatu ketika mereka bertengkar hebat dan pemilik rumah tidak sanggup
menengahinya.
"...lebih baik kita bunuh saja dia, supaya tidak ada seorang pun yang
dapat memilikinya!" usul Christa.
Mereka terdiam ... tegang
... dan entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Beberapa hari kemudian sang
pria playboy tidak pernah tampak lagi batang hidungnya di rumah kontrakan itu.
Mereka menduga dia telah
mati dibunuh. Dan salah satu diantara mereka pasti telah membunuhnya. Hingga
terdengar berita kematian sang pria itu ke telinga pemilik rumah. Mayatnya
masih berada di dalam mobil di ujung jalan menuju rumah kontrakan.
"Sang pria sudah tewas ... siapa diantara kalian pelakunya?" tanya
pemilik rumah dihadapan ke empat gadis cantik tersebut.
Mereka diam dan cuek dengan
berita itu. Kemudian pemilik rumah melakukan panggilan WA padaku, seorang Intel
Amatiran yang sedang naik daun. Aku segera datang ke rumah kontrakan tersebut.
Ke empat gadis cantik
menyambut dan menggodaku dengan menyapa genit. Pose dan pakaian yang mereka
pakai melambungkan anganku menembus tujuh lapis atmosfir bumi hingga membuatku
susah bernafas. Satu persatu mereka menyebutkan nama hingga membuat jantungku
berdegup keras. Kelemahanku ada pada seorang wanita. Aku tidak dapat melakukan
penyelidikan dengan keadaan seperti ini.
"Aku butuh waktu ... Aku akan kembali besok," kataku pada pemilik
rumah.
Aku gagal fokus dan pergi
dengan nafas memburu. Apa yang akan Aku lakukan dengan mereka? Aku berpikir
keras untuk melawan kelemahanku sendiri. Aku butuh air....
Keesokan harinya Aku
kembali ke rumah kontrakan itu dengan segudang pertanyaan untuk menginterogasi
mereka. Apa yang terjadi? Mereka menyambut kedatanganku dengan lebih hebat
lagi. Sehingga benar kata orang jika penghuni neraka kebanyakan kaum hawa.
Dengan langkah lambat Aku
keluar dari angkringan. Menyusuri jalan tanah berdebu dan berkerikil tajam.
Sesekali kakiku menendang dan melontarkan kerikil-kerikil tersebut. Debu pun
beterbangan dan mengharuskan Aku untuk menutup hidungku sendiri.
Berkali-kali Aku tengok
layar hp-ku. Tidak ada notifikasi yang masuk dalam grup WA Intel Amatiran. Aku
benar-benar pusing tujuh keliling. Sementara pemilik kontrakan berkali-kali
menghubungiku menanyakan hasil interogasiku pada ke empat gadis cantik
tersebut.
Aku kembali teringat pada
tingkah polah mereka. Mereka membuat pikiranku membeku di atas awan. Tidak ada
jalan keluar dari masalah ini. Sebuah kalimat yang keluar dari mulut
masing-masing gadis itu saling membelit sehingga sukar bagiku untuk menentukan
siapakah yang tidak berbohong. Mawar, Annie, dan Christa saling menuduh, hanya
Kenny yang membela diri. Teori dasarnya seseorang yang menuduh biasanya untuk
menutupi kesalahannya. Apakah mereka bertiga telah berkonspirasi melakukan
pembunuhan itu dan sekarang saling menyalahkan? Kalau begitu siapakah otak dari
pembunuhan ini? Aku mencoba mengurai kebekuan otakku.
Apakah Kenny berkata benar?
Atau hanya memanfaatkan situasi saja di saat teman-temannya saling menyalahkan
hingga dia bisa berkelit dan menghindari tuduhan itu?
Langkahku terhenti ketika
melihat sekelompok pelajar di sebuah pos ronda. Mereka asyik berkerumun seperti
sedang mengerjakan tugas dari gurunya. Mereka mendiskusikan sesuatu ... dan Aku
pun mendengarkan pembicaraan mereka. Terjadi perdebatan tapi dapat diselesaikan
dengan mudah oleh salah seorang siswa tersebut.
Tiba-tiba terdengar bunyi
sirine ambulans dan mobil polisi. Mereka menuju tempat kontrakan mewah itu. Aku
pun terkejut. Rupanya kabar pembunuhan itu telah sampai ke telinga polisi.
Panggilan WA-ku berdering ....
"Polisi segera datang dan akan membawa ke empat gadisku. Cepatlah
selesaikan tugasmu." Kata si pemilik rumah tersebut.
"Bukankah polisi akan lebih baik untuk menyelesaikan masalahmu?"
"Tidak!!! Aku tidak ingin kehilangan semuanya ...."
"Semuanya ...? Apa maksudmu?"
"Ee ... tidak. Selesaikan saja tugasmu. Tunjuk salah satu diantara
mereka. Dan masalah ini selesai."
Pemilik kontrakan menutup
teleponnya tanpa menunggu kesanggupanku. Aku makin kebingungan bagaimana
menyelesaikan masalah ini. Tidak mungkin Aku asal tunjuk tanpa alasan yang kuat
di hadapan para polisi di sana. Bisa-bisa Aku masuk penjara karena tuduhan
palsu. Aku kembali mendengar pembicaraan para siswa itu.
"Bagaimana kamu bisa mengambil kesimpulan dari soal ini?"
"Mudah saja. Dengan mengambil permisalan dan menegasikan kalimat yang
lainnya, kita dapat menyelesaikan soal ini."
Kesimpulan dari permisalan
dan negasi, apa maksudnya? Bukankah itu suatu teori? Aku bergegas menuju rumah
kontrakan mewah untuk menyelesaikan kasus ini.
Sampai di sana polisi sudah
bersiap membawa ke empat gadis cantik itu. Ups ... mereka semakin hot dan
tampak liar dihadapanku. Pemandangan itu hampir saja membuyarkan konsentrasiku.
Segera kuambil botol minumanku dan kuteguk untuk mendinginkan otakku.
"Untuk apa kamu datang? Apakah kamu akan mengorbankan salah satu
temanku dengan teori Amatiranmu?" kata Christa menatapku tajam.
"Tidak! Aku akan menyelesaikan masalah ini ..."
Aku menyodorkan selembar
kertas bertuliskan hasil interogasiku pada salah seorang polisi di sana.
Mawar : Annie, dialah pembunuh pria itu.
Annie : Christalah pembunuhnya.
Kenny : Aku tidak membunuhnya.
Christa : Annie telah berbohong padamu.
"Bagaimana mungkin ini bisa menjelaskan semuanya?"
Dengan hati-hati Aku menjelaskan teori Intel Amatiranku ....
Aku misalkan perkataan
Mawar benar maka perkataan dari ke tiga temannya adalah negasinya atau
kebalikannya. Sehingga ada dua fakta saling bertentangan, yaitu Annie dan Kenny
sebagai pembunuhnya. Dan ini tidak mungkin terjadi. Semua mendengar
penjelasanku dengan seksama.
Seandainya perkataan Annie
atau Kenny yang benar maka dengan cara yang sama akan dihasilkan fakta-fakta
yang saling bertentangan juga. Sehingga kesimpulanku hanya Christa yang berkata
benar. Dengan demikian dari negasi ke tiga perkataan teman yang lain tidak ada
fakta yang bertentangan dan kebohongan mereka tidak akan saling berbenturan.
Jadi Kennylah pembunuhnya berdasarkan teori ini. Semua terkejut dan mengarahkan
pandangan matanya pada Kenny.
"Bukan aku ... aku hanya disuruh untuk mengantarkan minuman pada pria
itu. Aku ... aku tidak tahu siapa yang telah membuatnya," kata Kenny
mencoba membela diri.
"Faktanya kamu yang membawa dan memberikan minuman itu. Siapa pun akan
tahu bahwa kamu yang telah membunuh pria itu," kataku.
"Benar ... dia pasti yang telah membunuh pria itu. Kenny adalah
pembunuhnya. Dan masalah ini telah selesai. Pak polisi ... cepat bawa Kenny dan
jebloskan dalam penjara," kata pemilik kontrakan dengan mantap. Dan Kenny
hanya bisa menatap tajam padanya tanpa bisa berkata-kata lagi.
"Tenang dulu ... ada penyimpangan teori dari kasus ini. Dan Kenny bukan
pembunuh yang sebenarnya karena dia hanya dimanfaatkan sebagai alat untuk
membunuh."
Semua yang hadir saling
pandang. Mereka berharap-harap cemas untuk segera mengetahui siapa pembunuh
yang sebenarnya. Aku tatap mereka satu per satu dari ujung kepala hingga ujung
kaki. Tidak ada desah suara dan gerakan-gerakan erotis seperti dulu. Semua
menjadi tegang menunggu penjelasanku selanjutnya. Aku tatap pemilik kontrakan
yang mencoba bersikap tenang.
"Kamulah pembunuh yang sebenarnya," kataku sambil menunjuk sang
pemilik kontrakan.
"Kau ... kau telah menuduhku? Tidak ada bukti untuk itu!"
"Bukankah kamu sendiri telah mengatakan tidak ingin kehilangan
semuanya? Itu berarti kamu telah membunuh pria itu dan akan kehilangan semua
harta yang kamu miliki."
Para gadis terkejut dan
tidak menyangka atas kesimpulanku ini. Benarkah pemilik kontrakan pembunuhnya?
Apakah alasannya dia membunuh pria itu?
Pemilik kontrakan telah
membunuh pria playboy kaya raya karena merasa tersaingi dalam mendekati ke
empat gadis cantik yang tinggal di rumah kontrakannya. Keadaan di sana menjadi
berubah setelah pria itu datang dengan membawa uang yang begitu banyak dan
mengalihkan perhatian ke empat gadis cantik tersebut. Pemilik kontrakan
membunuh untuk mengambil harta kekayaan pria itu agar ke empat gadis cantik itu
tidak berpaling darinya. Dia memanfaatkan situasi ini, saat mereka berempat
sedang bertikai memperebutkan pria kaya itu. Dia juga memanfaatkan Kenny karena
setelah kedatangan pria itu, Kenny yang paling disukainya tidak mau lagi
diajaknya berkencan.
"Ada bukti lain, tetapi telah kamu singkirkan juga. Di mana pembantumu?
Kamu pecat dan kamu usir dia atau malah kamu bunuh juga dan kamu sembunyikan
mayatnya? Karena dia yang telah membuat minuman atas perintahmu. Minuman yang
telah kamu beri racun. Dan dia menyuruh Kenny memberikan minuman kepada pria
itu atas perintahmu juga."
Semua mata tertuju pada
pemilik kontrakan. Pak polisi segera mendatanginya dan memasang borgol pada ke
dua tangannya. Dia dibawa ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan
perbuatannya.
Ke empat gadis tersenyum
lega. Kenny berjalan perlahan ke arahku dengan gerakan cantik membuat darahku
sedikit mendidih. Ke tiga temannya pun mengikutinya dari belakang.
"Terimakasih telah menyelamatkanku," kata Kenny dengan senyum mempesona
....